Peran Sholat dan Dzikir dalam Menumbuhkan Rasa Tenang pada Anak Yatim
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna subjektif remaja Muslim terhadap peran sholat dan zikir dalam kehidupan emosional mereka. Latar belakang penelitian didasari oleh pentingnya praktik religius sebagai mekanisme koping dalam menghadapi tekanan psikologis pada masa remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam kepada tiga informan, kemudian dianalisis melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sholat dan zikir dipahami sebagai kewajiban spiritual sekaligus sarana pengatur emosi yang efektif. Informan menyatakan bahwa mereka merasa gelisah ketika belum melaksanakan sholat, sebagaimana tercermin dalam ungkapan . Selain itu, waktu tertentu seperti subuh dan maghrib memberikan pengalaman ketenangan lebih mendalam karena dipengaruhi suasana lingkungan. Proses internalisasi nilai religius dimulai sejak masa kanak-kanak melalui peran orang tua atau pengasuh, sehingga membentuk kebiasaan ibadah yang stabil hingga remaja. Penelitian juga menemukan bahwa emosi moral seperti rasa bersalah dan takut hukuman menjadi pendorong penting bagi konsistensi praktik keagamaan. Secara keseluruhan, sholat dan zikir berfungsi sebagai mekanisme koping religius, regulator moral, dan penopang kesejahteraan emosional remaja. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap literatur mengenai religiusitas dan kesehatan mental, serta membuka ruang untuk pengembangan intervensi berbasis spiritual
bagi remaja
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Aswanto, F., Yusri, F., & Yunita, S. D. (2024). Peran pengasuh dalam membentuk karakter religius anak di Panti Asuhan Yayasan Gerakan Bunda Berbagi.
Azhar, M., & Varma, S. (2000). Religious psychotherapy as management of bereavement. International Journal of Social Psychiatry, 46(2), 110–118.
Bhakti, W. P., & Syaefudin, M. (2020). Pengaruh intensitas membaca dzikir Asmaul Husna dan sholat Zuhur berjamaah terhadap kontrol diri siswa MA di Kota Pekalongan.
Bjorck, J. P., & Cohen, L. H. (1993). Coping with threats, losses, and challenges. Journal of Personality and Social Psychology, 65(4), 844–860.
Chairunnisa, F., & Saburi, A. (2023). Religious guidance strategy in overcoming the boredom of orphanage children.
Fowler, J. W. (1995). Stages of faith: The psychology of human development and the quest for meaning. HarperCollins.
Husna, A., et al. (2023). Efektivitas terapi sholat berjamaah terhadap kecemasan anak yatim piatu di Panti Asuhan Bani Jannah.
Khaira, W., et al. (2023). Pembinaan ibadah salat anak asuh di Panti Asuhan Aisyiyah Cabang Koto Tangah Timur.
King, P. E., & Roeser, R. W. (2009). Religion and spirituality in adolescent development. In R. M. Lerner & L. Steinberg (Eds.), Handbook of adolescent psychology (pp. 435–478). Wiley.
Koenig, H. G. (2012). Religion, spirituality, and health: The research and clinical implications. ISRN Psychiatry, 2012, 278730. https://doi.org/10.5402/2012/278730
Maturidi, & Maemunah. (2020). Zikir sebagai terapi penyakit hati dalam perspektif bimbingan dan konseling Islam.
Pargament, K. I. (1997). The psychology of religion and coping: Theory, research, and practice. Guilford Press.
Park, C. L. (2010). Making sense of the meaning literature: An integrative review. Psychological Bulletin, 136(2), 257–301.
Razi, F., & Nabawiyah, H. (2024). Konsep pendidikan anak dalam Al-Qur'an: Studi tafsir mawdu’i.
Saroglou, V. (2011). Believing, bonding, behaving, and belonging: The big four religious dimensions. Journal of Cross-Cultural Psychology, 42(8), 1320–1340.
Tangney, J. (1992). Situational determinants of shame and guilt in young adults. Journal of Personality and Social Psychology, 63(4), 671–686.
DOI: http://dx.doi.org/10.29300/istisyfa.v4i2.9934
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2025 Lili Sartika Putri

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.